subscribe: Posts | Comments

Kemunduran Moral Anak Muda Pasca Kemerdekaan

0 comments

From the desk of Ir.DR.H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar ,DSI.,Ph.D.,Psy.

Para pembaca yang penulis hormati, ‘sopan santun’ merupakan pendidikan yang seharusnya dipantau dengan cermat oleh orang tua yang bakal bertanggung jawab atas perilaku anak didiknya. Apakah arti sebenarnya dari hal ‘sopan-santun’ tersebut?

Hal ini banyak sekali menyangkut perilaku ke-bergaulan antar manusia dengan segala bentuknya. Ada yang mempunyai pendidikan tuntas di dalam hal ini dan ada bahkan yang sebaliknya. Banyak asal usul kelakuan manusia didapatkan dari “transmisi genetis” sebagai dasar mutlak. Tapi banyak tergantung dari ‘waktu’ yang bisa diluangkan untuk melaksanakan ‘tambahan’ pendidikan seperti itu.

Seperti adanya hal-hal yang berbau negatif bila tak dilaksanakan perbaikan kearah yang positif, maka dasar itu akan menetap di dalam perkembanganya. Untuk merubah hal itu akan sangat sulit bila kita tidak memperhatikan ‘filosofi’ bagaimana sang manusia itu berkembang dengan menetap yang dikatakan “mantap”.

Filosofi itu, pada hakekatnya sudah diatur di dalam perkembangan secara tuntas yang sumbernya berada pada perkembangan “Jagad Raya” atau “Univers” itu sendiri. Tapi tanpa diatur kembali oleh “Keinginan Bebas” atau “Free Will” dari manusia itu sendiri, maka sifatnya akan tercampur dengan hal-hal yang menentang ketentuan-ketentuan yang seharusnya dapat dilestarikan pada nuansa yang lebih banyak ‘positif’-nya daripada yang ‘negatif’.

Manusia mengikuti suatu ‘masa pengembangan’ di dalam bilangan “Oktaf”, suatu ketentuan di dalam bidang musik yang terdiri dari 7 ‘not’ utama. Kita tak dapat keluar dari ketentuan ini sungguhpun ingin melaksanakanya. Vibrasi seperti itu sudah termasuk ‘Ciptaan Baku’ dari Yang Maha Kuasa. Kematangan primer terjadi di dalam tiga tahap dari tujuh tahun tersebut.

Pengasahanya yang didapatkan dari ‘lingkungan’ akan mermberikan lagi dua tahapan dimana manusia bisa dikatakan <Matang> tuntas yang masih bisa di-‘kategori-kan di dalam yang ‘Positif’ atau yang ‘Negatif’. Disinilah akan dapat diketahui benar yang menyangkut ‘masa pendidkan’, karena pada patokan umur ‘tigapuluh delapan tahun’, seharusnya sosok anusia yang matang itu dapat di-‘andal’-kan mengenai produktifitas serta sifat ke-sopan-santun-anya.

Bila diadakan suatu ‘pemaksaan’ atau penyimpangan dari suatu ketentuan (formula) ‘Baku’, maka sudah pasti akan terjadi  m a s a l a h  yang akan sulit diperbaiki lagi. Mengapakah demikian? Untuk ini kita harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan suatu ‘pengaruh’ yang bukan melalui cara  V e r b a l.

Performa verbal dikenal sebagai  mengeluarkan bentuk gelombang  e m o s i  melalui penggunaan susunan kata-kata yang diucapakan dan merupakan pengertian akan suatu  k a l i m a t  dengan harapan dapat diterima serta ditanggapi serta dimengerti oleh sesama kita.

Padahal kenyataanya adalah, bahwa semua bentuk cetusan pikiran  ‘sebelum’ diucapkan mempunyai gelombang penimbulan yang sederhana dan akan mudah dimengerti serta ditangkap bila yang menerimanya mempunyai kemampuan dari penerimaan getaran  s u y e k t i f –nya. Bentuk seperti ini kini dapat dipelajari dan di-belajarkan.

Jadi, kembali pada pembentukan sifat ‘sopan-santun’ tersebut, kita dapat mengandalkan pendidikan itu kini melalui suatu cara pendidikan yang kini sedang ‘marak’ dengan sebutan <Pendidikan Subyektif>. Apakah maksudnya? Suatu pendidikan ‘subyektif’ menggunakan pengembangan dari potensi penggunaan <Otak Bagian Kanan> yang bermukim pada bilangan “sub-sadar”, jadi pada ‘bawah sadar’ yang juga disebut “Nirsadar”.

Hanya dengan demikianlah, maka kita dapat memupuk sifat ‘sopan-santun’ yang sudah pasti mempunyai “Mutu” tinggi. Bahwa banyak diantara kita kurang memahami hal ini, sangat tergantung dari suatu kondisi “Pikiran terbuka” atau ‘open mind’ yang bebas dari ketentuan-ketentuan doktrin serta ‘dogma’.

Penulis harapkan bahwa apa yang dikemukakan ini dapat difahami dengan seksama oleh mereka yang termasuk orang tua ‘muda’ untuk ikut serta di dalam pembentukan generasi penerus dengan “Mutu” utama, yaitu mempunyai sifat sopan-santun tuntas, kepekaan intuitif yang selalu ‘positif’ dan mampu mepengaruhkan sifat-sifat itu pada suatu lingkungan dimana pun mereka berada.

Bila seluruh umat manusia dapat mempunyai sopan-santun seperti yang diungkapkan dan dapat ditimbulkan melalui perhatian serta kewaspadaan tuntas, maka penulis melihat bahwa bentuk dunia akan mempunyai kebebasan dari ‘kekerasan’, kebrutalan’ dan saling curiga-mencurigai yang dapat dihadirkan untuk selamanya.

Marilah kita mengarahkan diri pada hal sopan-santun tersebut dengan mewaspadainya pada setiap peristiwa yang dapat ditangkap, lalu diubah menjadi sesuatu yang memberikan dampak ‘luhur’ serta melestarikan sifat tersebut untuk selanjutnya.

PENULIS:

Ir.DR.H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar ,DSI.,Ph.D.,Psy.
Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo – Texas – United States of America
( Direktur/Lecturer Psychorientology wilayah Indonesia sejak 1983.)
Pengasuh kolom Magic Brain di INDOSIAR.COM

Demikianlah Kenyataanya.


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.