subscribe: Posts | Comments

Investasikan Waktumu Maka Kau Akan Kaya Raya

0 comments

Bagaimana menjadi kaya raya tanpa investasi uang atau property atau emas ?

Ini adalah pertanyaan besar bagi kebanyakan orang. Padahal para ahli keuangan di luar sana meyakini bahwa untuk menjadi kaya raya, Anda harus investasi terlebih dulu. Apakah itu deposito, property, emas, saham dan lain sebagainya. Tapi bagaimana kalau ingin berinvestasi tetapi tidak punya uang ?

Apa rahasianya?

Investasi waktu !

Waktu memiliki sifat irreversible (tidak pernah kembali), untransfersible (tidak bisa dipindahkan kepada orang lain), unsubstitution (tidak tergantikan oleh apa pun), dan unpayable (tak dapat dibeli).

Seorang yang sudah tua tidak bisa kembali menjadi remaja lagi. Barang hilang bisa diganti dengan uang. Kekayaan dan kemewahan hancur dapat diperoleh kembali dengan usaha. Tapi waktu yang telah pergi hendak kemana dicari penggantinya ? Kepemilikan harta dari orang mati dapat dipindahkan kepada hak warisnya. Namun waktu hanya dimiliki tiap individu di mana masing-masing berbeda tak mungkin dipindahtangankan kepemilikannya.  Laptop yang dicuri akan ‘kembali’ dengan membeli yang baru. Namun, tak ada seorang pun yang dapat membeli masa mudanya yang sudah pergi.

Satu-satunya aset terbesar yang dimiliki manusia hanyalah waktu.

Kalau Anda sekarang tinggal di planet bumi, ibarat keping uang, Tuhan telah  membekali kita  dengan 24 keping uang yang sama untuk setiap orang di setiap harinya, untuk kita investasikan. Tetapi yang terjadi adalah, kebanyakan keping uang itu kita belanjakan saja, dan luput untuk di investasikan.

Sebagian besar orang, menghabiskan 24 jam  setiap hari di hidupnya untuk tidur, makan, kerja, santai-santai, ngobrol-ngobrol. Dan semua itu adalah waktu yang dibelanjakan. Lho, kan saya juga kerja ? Dan itu menghasilkan uang ? Betul sih. Namun kerja Anda ini pada hakekatnya adalah waktu yang ditukarkan dengan uang. Dan itu bersifat jangka pendek.  Pekerjaan Anda beres lalu dibayar, selesai.

Para orang sukses, dulunya juga tidak punya uang seperti kebanyakan orang.  Mereka  juga dulunya terjebak dalam rutinitas, menukarkan waktu dan tenaganya dengan uang  dan tidak tahu entah kapan akan berakhir.  Tetapi mereka segera sadar untuk menginvestasikan waktunya, selain untuk dibelanjakan.
Lalu, dimana mereka mengivestasikan waktunya ? Ada tiga tempat :  peningkatan diri, menjalin rekanan (networking), ibadah.

Bagi seorang pemilik usaha, kegiatan sehari-hari ibarat menginvestasikan waktu. Ketika dia menemui rekanan atau klien, dia sedang membangun network. Ketika dia mencari solusi masalah bagi kliennya, dia sedang berinvestasi pada membangun kemampuan diri. Dan seluruh kegiatannya itu dia memaknainya dengan ibadah kepada Tuhan.

Sebaliknya bagi kebanyakan karyawan, ketika dia mengerjakan tugas pekerjaan, sebenarnya dia hanya menukarkan tenaganya untuk gajian di akhir bulan. Jadi ini hanya pertukaran. Orang yang ditemui ketika dia bekerja dalam tugas bukanlah network nya dia (tapi network perusahaan), jadi hal ini tidak disebut investasi. Memaknainya dengan ibadah ? Bisa iya, bisa tidak.

Cara untuk membedakan apakah kegiatan kita merupakan investasi atau sekedar membelanjakan waktu adalah hasil jangka panjang. Kalau kegiatan itu memberikan manfaat jangka panjang, maka itu adalah investasi waktu. Kalau hasilnya hanya jangka pendek (tugas selesai lalu dibayar) maka itu hanyalah pembelanjaan waktu, yaitu pertukaran waktu kita dengan uang.

Lalu bagaimana caranya ?

Di setiap pekerjaan ada kesempatan berinvestasi waktu, yaitu ketika secara sadar kita memilih untuk membangun network dan kemampuan diri. Misalnya Anda hobi ngobrol-ngobrol. Kalau hanya ngobrol dengan teman yang itu-itu saja, juga dengan topik sekitar gosip artis saja, maka jelas itu sekedar membelanjakan waktu. Tapi kalau Anda ngobrol dengan orang-orang baru, maka Anda sedang berinvestasi dengan network Anda. Atau mungkin ngobrol dengan teman lama Anda, tapi ngobrol tentang peluang usaha baru, kesempatan kerjasama, atau ngobrol tentang ilmu yang bermanfaat buat mengelola keuangan keluarga Anda misalnya, maka itu adalah investasi waktu.

Saya teringat sewaktu masih bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi dulu. Sementara teman-teman saya memilih untuk dinas luar (untuk mendapatkan uang perjalanan dinas), saya memilih untuk ‘menghabiskan’ waktu dengan belajar programming, dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia IT. Lebih dari lima tahun saya melakukannya. Dengan peningkatan ilmu, kemudian saya berani untuk mengaplikasi ilmu itu untuk menuai hasilnya. Membuat aplikasi software, mendevelop website yang kala itu jarang orang bisa melakukannya. Banyak hasil yang telah saya peroleh. Materi, keleluasaan waktu, dan intens nya ibadah. Tetapi, hingga saat ini pun saya masih terus melakuan ‘investasi’ di atas.

Ada juga kisah seorang satpam di sebuah perusahaan minyak nasional. Sambil tugas malam, ketika rehat dari berkeliling, dia membuat corat-coret desain ukiran kayu semacam bebek-bebek kayu. Beberapa tahun kemudian dia mengundurkan diri setelah punya gift shop di Kemang dan Plaza Indonesia. Dia telah menginvestasikan waktu untuk kemampuan diri, sementara banyak rekan satpam lainnya hanya membelanjakan waktu untuk pertukaran dengan uang.

Bagaimana dengan Anda ? Berapa jam waktu yang telah anda belanjakan untuk meningkatkan diri ? Jika belum, maka Anda akan terus menerima apa yang telah Anda terima sekarang.


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.