subscribe: Posts | Comments

Alhamdullilah Semakin Baik

0 comments
Saya selalu memposisikan diri masih sangat bodoh dan terus ingin belajar, sepertinya itu sudah menjadi kebutuhan. Membaca buku, dan googling untuk mendapatkan suatu topik informasi menjadi cara yang paling sering saya lakukan. Kadang juga saya mendatangi beberapa seminar untuk menambah kuota sudut pandang, melihat cara keynote speaker nya melakukan presentasi, sekaligus memperbanyak teman. Seperti beberapa waktu yang lalu saya datang ke seminar, salah satunya oleh Tung Desem Waringin.
Seperti seminar-seminar serupa, selalu full semangat dengan penyampaian yang berbeda, style yang berbeda, termasuk dalam salam dan cara bertegur sapa. Saya pulang duluan, hanya karena dialog-dialognya yang bombastis :) . Lalu saya teringat Pak Khairul, sepertinya beliau pernah menulis tentang dialog-dialog. Saya tulis lagi dengan beberapa penambahan.
Dialog 1:

“Apa kabar?”

“Baik.”

Ini dialog standar kalau dua orang bertegur sapa.
Dialog 2:
“Apa kabar?”
“Luar biasa ! Fantastis ! Yes, Yes Yes!”
Penuh semangat. Itu adalah cara teman saya setelah memberikan motivasi ke anak buah di kantor.

Dialog 3:

“Apa kabar?”

“Dahsyat!” (Sambil mengacungkan kepalan tangan.)

Antusias. Itulah perasaan yang muncul dalam diri kita dengan menjawab, “Dahsyat!”

Jawaban ini yang ada di ruang seminar kemarin itu. Sayangnya jawaban ini kurang praktis diterapkan sehari-hari, demikian juga Dialog 2 di atas.

 

Dialog 4:

“Apa kabar?”

“Semakin baik.”

 

 

Jawaban ini bagi saya terasa lebih nyaman. “Semakin baik” bernuansa positif dan jujur. Positif karena menimbulkan senyum (coba saja deh). Dan juga jujur, karena selalu ada yang semakin baik dari sebelumnya. Yang tadinya baik, lalu meningkat, berarti semakin baik. Yang tadinya sakit, lalu berkurang sakitnya, itu juga semakin baik (kalau kita sakit, lalu menjawab ‘baik’ atau ‘dahsyat’ tentu ada suara kecil yang protes bahwa jawaban kita tidak jujur. Kalau kita sakit lalu menjawab ’semakin baik’, masih selaras dengan keadaan sebenarnya, karena sakit yang berkurang. Jawaban itu juga berlaku sebagai do’a.)

Setiap hari ada saja hal yang menjadi ’semakin baik’. Mungkin penyelesaian pekerjaan kita, mungkin hubungan kita dengan pasangan, mungkin kesehatan kita, mungkin keuangan kita, mungkin ibadah kita, apa saja bisa menjadi semakin baik dari sebelumnya. Yang tadinya sholat sekali sehari, lalu menjadi 2 kali sehari, ini semakin baik. Yang tadinya sholat di akhir waktu lalu menjadi di awal waktu, ini juga semakin baik. Yang tadinya merasa uang selalu tak cukup sehingga ngomel-ngomel, lalu menjadi lebih bersyukur karena masih punya uang walau sedikit, ini juga semakin baik.

Jawaban ‘baik’, ‘fantastis’ dan ‘dahsyat’ adalah jawaban kondisi saat itu (yang boleh jadi berbeda jauh dengan realita, sehingga ada suara kecil yang protes). Sedangkan jawaban ’semakin baik’ adalah jawaban proses yang sedang dialami. Jawaban ini lebih selaras dengan keadaan sebenarnya. Penambahan kata ’semakin’ ternyata membuat perbedaan besar bagi perasaan kita. Sama halnya perbedaan besar antara pernyataan ‘Aku kaya’ dengan ‘Aku sedang dalam proses menjadi kaya’. Jawaban terakhir lebih jujur sekaligus positif sehingga menimbulkan perasaan menyenangkan yang selaras di hati.

Akan menjadi lebih mantap lagi kalau jawaban Anda, “Alhamdullilah, semakin baik”. Selalu menyertakan Tuhan dalam langkah kehidupan Anda akan membuat hari-hari Anda semakin baik.

Mari langsung kita praktekkan.

“Halo, apa kabar?”

Anda menjawab:…..

Investasikan Waktumu Maka Kau Akan Kaya Raya

0 comments

Bagaimana menjadi kaya raya tanpa investasi uang atau property atau emas ?

Ini adalah pertanyaan besar bagi kebanyakan orang. Padahal para ahli keuangan di luar sana meyakini bahwa untuk menjadi kaya raya, Anda harus investasi terlebih dulu. Apakah itu deposito, property, emas, saham dan lain sebagainya. Tapi bagaimana kalau ingin berinvestasi tetapi tidak punya uang ?

Apa rahasianya?

Investasi waktu !

Waktu memiliki sifat irreversible (tidak pernah kembali), untransfersible (tidak bisa dipindahkan kepada orang lain), unsubstitution (tidak tergantikan oleh apa pun), dan unpayable (tak dapat dibeli).

Seorang yang sudah tua tidak bisa kembali menjadi remaja lagi. Barang hilang bisa diganti dengan uang. Kekayaan dan kemewahan hancur dapat diperoleh kembali dengan usaha. Tapi waktu yang telah pergi hendak kemana dicari penggantinya ? Kepemilikan harta dari orang mati dapat dipindahkan kepada hak warisnya. Namun waktu hanya dimiliki tiap individu di mana masing-masing berbeda tak mungkin dipindahtangankan kepemilikannya.  Laptop yang dicuri akan ‘kembali’ dengan membeli yang baru. Namun, tak ada seorang pun yang dapat membeli masa mudanya yang sudah pergi.

Satu-satunya aset terbesar yang dimiliki manusia hanyalah waktu.

Kalau Anda sekarang tinggal di planet bumi, ibarat keping uang, Tuhan telah  membekali kita  dengan 24 keping uang yang sama untuk setiap orang di setiap harinya, untuk kita investasikan. Tetapi yang terjadi adalah, kebanyakan keping uang itu kita belanjakan saja, dan luput untuk di investasikan.

Sebagian besar orang, menghabiskan 24 jam  setiap hari di hidupnya untuk tidur, makan, kerja, santai-santai, ngobrol-ngobrol. Dan semua itu adalah waktu yang dibelanjakan. Lho, kan saya juga kerja ? Dan itu menghasilkan uang ? Betul sih. Namun kerja Anda ini pada hakekatnya adalah waktu yang ditukarkan dengan uang. Dan itu bersifat jangka pendek.  Pekerjaan Anda beres lalu dibayar, selesai.

Para orang sukses, dulunya juga tidak punya uang seperti kebanyakan orang.  Mereka  juga dulunya terjebak dalam rutinitas, menukarkan waktu dan tenaganya dengan uang  dan tidak tahu entah kapan akan berakhir.  Tetapi mereka segera sadar untuk menginvestasikan waktunya, selain untuk dibelanjakan.
Lalu, dimana mereka mengivestasikan waktunya ? Ada tiga tempat :  peningkatan diri, menjalin rekanan (networking), ibadah.

Bagi seorang pemilik usaha, kegiatan sehari-hari ibarat menginvestasikan waktu. Ketika dia menemui rekanan atau klien, dia sedang membangun network. Ketika dia mencari solusi masalah bagi kliennya, dia sedang berinvestasi pada membangun kemampuan diri. Dan seluruh kegiatannya itu dia memaknainya dengan ibadah kepada Tuhan.

Sebaliknya bagi kebanyakan karyawan, ketika dia mengerjakan tugas pekerjaan, sebenarnya dia hanya menukarkan tenaganya untuk gajian di akhir bulan. Jadi ini hanya pertukaran. Orang yang ditemui ketika dia bekerja dalam tugas bukanlah network nya dia (tapi network perusahaan), jadi hal ini tidak disebut investasi. Memaknainya dengan ibadah ? Bisa iya, bisa tidak.

Cara untuk membedakan apakah kegiatan kita merupakan investasi atau sekedar membelanjakan waktu adalah hasil jangka panjang. Kalau kegiatan itu memberikan manfaat jangka panjang, maka itu adalah investasi waktu. Kalau hasilnya hanya jangka pendek (tugas selesai lalu dibayar) maka itu hanyalah pembelanjaan waktu, yaitu pertukaran waktu kita dengan uang.

Lalu bagaimana caranya ?

Di setiap pekerjaan ada kesempatan berinvestasi waktu, yaitu ketika secara sadar kita memilih untuk membangun network dan kemampuan diri. Misalnya Anda hobi ngobrol-ngobrol. Kalau hanya ngobrol dengan teman yang itu-itu saja, juga dengan topik sekitar gosip artis saja, maka jelas itu sekedar membelanjakan waktu. Tapi kalau Anda ngobrol dengan orang-orang baru, maka Anda sedang berinvestasi dengan network Anda. Atau mungkin ngobrol dengan teman lama Anda, tapi ngobrol tentang peluang usaha baru, kesempatan kerjasama, atau ngobrol tentang ilmu yang bermanfaat buat mengelola keuangan keluarga Anda misalnya, maka itu adalah investasi waktu.

Saya teringat sewaktu masih bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi dulu. Sementara teman-teman saya memilih untuk dinas luar (untuk mendapatkan uang perjalanan dinas), saya memilih untuk ‘menghabiskan’ waktu dengan belajar programming, dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia IT. Lebih dari lima tahun saya melakukannya. Dengan peningkatan ilmu, kemudian saya berani untuk mengaplikasi ilmu itu untuk menuai hasilnya. Membuat aplikasi software, mendevelop website yang kala itu jarang orang bisa melakukannya. Banyak hasil yang telah saya peroleh. Materi, keleluasaan waktu, dan intens nya ibadah. Tetapi, hingga saat ini pun saya masih terus melakuan ‘investasi’ di atas.

Ada juga kisah seorang satpam di sebuah perusahaan minyak nasional. Sambil tugas malam, ketika rehat dari berkeliling, dia membuat corat-coret desain ukiran kayu semacam bebek-bebek kayu. Beberapa tahun kemudian dia mengundurkan diri setelah punya gift shop di Kemang dan Plaza Indonesia. Dia telah menginvestasikan waktu untuk kemampuan diri, sementara banyak rekan satpam lainnya hanya membelanjakan waktu untuk pertukaran dengan uang.

Bagaimana dengan Anda ? Berapa jam waktu yang telah anda belanjakan untuk meningkatkan diri ? Jika belum, maka Anda akan terus menerima apa yang telah Anda terima sekarang.


Sukses Dunia Akhirat

0 comments

Rasanya kiat-kiat sukses dan menyiasati hidup selalu mengacu pada dunia Barat. Maka yang ini kiat dari Rasulullah. Dijamin lebih mustajab, mengutip  dari situs Renungan Islam.

HADIS MUTHAHHARAH

Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim
Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya
Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil
Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik
Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik)
Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa niscaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain niscaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar niscaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain niscaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah niscaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) niscaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram niscaya segala permohonanmu akan diterimaNya

Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain niscaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa?
Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat? Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah

 

Tinggal pilih  Anda ingin seperti apa

*) Sayang karena perawinya tidak dituliskan. Mungkin ada rekan yang bisa bantu?

 


« Previous Entries