KETENTUAN MUTLAK ANTARA YANG BENAR DAN TIDAK
APA YANG MENJADI PATOKAN DARI
KEBENARAN DAN KEJUJURAN ?
Pada saat, kita sebagai “manusia”, dilahirkan dibumi ini, kita telah “terisi” dengan “ciri-ciri genetik” dari asal biologis yang menjadi satu-satunya “konstruksi” terjadinya struktur “mind-body” makhluk manusia. Suatu pembentukan “sifat” yang berasal pada tingkatan pertama ini, banyak mengandung “variabel-variabel” yang sedikit banyaknya menjadi “sumber” dari pembentukan sifat manusia baru untuk selanjutnya. Perilaku manusia baru tersebut, dalam banyak expresinya, suka mengherankan orang tuanya. Suatu ketika, orang tua mengenali pada anaknya ada beberapa sifat, yang terkandung pada anaknya itu, yang serupa atau “mirip” dengan sifat orang tua itu sendiri. Tapi suatu ketika pula, mereka keheranan, adanya perilaku dari sifat yang timbul tanpa diduga semula, yang tidak diketemukan pada diri orang tuanya.
Penulis dalam hal ini telah banyak memantau, dalam pembentukan “aura” pada anak-anaknya serta cucu-cucunya sendiri, dimana dari sumber itulah akan dapat terungkap adanya sifat-sifat yang “mirip” dan “tidak mirip” dari perilaku kita sebagai orang tua. Itu semua dapat terbaca pada “getaran-getaran” aura, yang memang ada pada diri setiap insan. Bila Anda nanti, setelah dapat mengembangkan diri melalui kursus Metode Silva, telah mempunyai “kepekaan intuisi” yang akan makin meningkat serta didukung oleh “penglihatan penangkapan” getaran-getaran aura, perhatikan saja lingkungan keluarga Anda sendiri untuk dipantau dengan seksama.
Pada dasarnya, perilaku seorang anak dalam “fase induksi pertama”, mulai satu tahun sampai dengan tujuh tahun, mulai dapat dipantau dan langsung dapat diperbaiki, bila ada faktor-faktor yang bakal menuju kepada pengelolaan nirsadar yang “menyimpang” dari perilaku yang positif. Dari saat permulaan inilah, orang tua yang “penuh perhatian” kepada masa depan perkembangan anaknya, dapat menjadi sumber yang “benar” dan “jujur” bagi landasan perilaku anaknya untuk selanjutnya.
Anak yang tidak dipantau sejak berkembang pada “fase pertama” itu, karena banyak alasan orang tuanya, yang bekerja keduanya dan menyerahkan asuhan kepada “pihak ketiga”, pasti tidak dapat mengetahui benar “isi sifat” anaknya sendiri dalam fase-fase pertama yang “induktif” itu. Jangan heran, bila akan sering terjadi kesalah pahaman antara anak dan orang tua yang akan makin renggang pada fase kedua, yaitu antara tujuh dan empat belas tahun kemudian.
Didalam setiap keluarga, tentu ada saja suatu “keterkecualian” yang terdapat dari “pemindahan genetik” yang dasarnya sangat menguntungkan. Didunia, bila ingin maju “tanpa problem” kita tidak dapat tergantung dari pengecualian-pengecualian itu, karena hal itu tidak akan banyak jumlahnya. Sebagai manusia yang telah menjadi “orang tua” dan berdedikasi pada pembentukan anak yang disayangi selama hidup ini, sebenarnya tidak mempunyai batas-batas tertentu. Kita bisa saja memberikan dukungan pendidikan kepada cucu dan cicit kita, sesuai dengan hubungan mesra dan harmonis antar keluarga. Tapi bila ada anak-anak yang tidak menginginkan suatu “ikut campur” dari orang tua yang bermaksud positif, maka akan timbul suatu ‘konflik” yang bisa saja berkepanjangan sampai tingkatan “bermusuhan”. Hal-hal seperti itu banyak terjadi, hanya, kita tidak mengetahui saja. Nah, hal itu dapat dicegah melalui sistem pendidikan Metode Silva.
Norma-norma yang direkam kepada anak-anak dalam “fase induksi dan deduksi” pada masa pendidikan perilaku yang menjadi pedoman “subyektif” atau “mentalistis” bagi anak-anak yang menjadi “generasi penerus”, MUTLAK harus diperhatikan dan diperbaiki bila menyimpang, Mereka sangat tergantung dari, terutama, perhatian lingkungan keluarga masing-masing, karena hanya dengan demikian akan dapat dicegah timbulnya “gejolak emosi” yang mana anak-anak itu sangat rentan dalam hal ini.
Kita seharusnya mendidik mereka untuk “mempertahankan” diri secara “subyektif” dan bukan “obyektif”, karena yang disebut terakhir itu, akan justru banyak menimbulkan suatu tindakan “penganiayaan” pada diri sendiri dan orang lain. Membalas suatu serangan fisik, merupakan reaksi “dendam” atau “revenge” karena menyangkut rasa “puas”. Sistem bela diri pada hakekatnya merupakan kesinambungan gerak antara tubuh dan mental untuk bisa siap bila ada yang menyerang dengan tujuan “menganiaya”. Membalas serangan berarti, “kembali menganiaya” dan akan seterusnya demikian, selama salah satu oknum tidak ingin “menyerah” dan mengaku kalah.
Hal mengaku kalah itu, sudah pasti akan menyangkut rasa kebanggaan diri yang terkena “pukulan”. Merasa tidak kuasa untuk mengatasi suatu “kekalahan” itulah yang akan menjadikan mencari cara-cara suatu “pembalasan”. Hal ini akan tergantung dari suatu “introspeksi” diri, apakah kita penyebab dari suatu serangan dengan perilaku yang tidak “berkenan” bagi orang lain, ataukah kita salah tanggap mengenai perilaku orang sehingga menimbulkan gejolak emosi. Dan begitu akan seterusnya berkembang sepanjang masa, bila tidak terdapat suatu penyesuaian dengan saling MAAF-MEMAAFKAN
Kesemuanya itu tidak akan terjadi, bila anak sudah terdidik “dini” secara SUBYEKTIF dan kemudian DIPERLENGKAPI secara OBYEKTIF. Pengutamaan pendidikan subyektif membuktikan perubahan-perubahan pada perilaku semua manusia dan tidak tergantung kini dari kapan harus dimulai. Metode Silva “terbuka” sekali dengan cara sistemnya untuk bisa bekerja bagi semua “struktur” manusia, baik bagi yang tua maupun yang muda.
Memulai dari dini, seperti halnya menanggulangi penyakit “kanker”, akan jauh lebih efektif daripada telah mengalami penyakitnya pada tingkatan parah dan berusaha mengobatinya. Semuanya termasuk dalam hal “kewajaran berpikiran sehat normal” atau “common sense”.
Pelajarilah artikel-artikel mengenai “Hasil riset ilmiah Metode Silva yang menguntungkan bagi manusia”. Kembali kepada pokok ulasan mengenai sumber kebenaran dan kejujuran, maka dengan pendahuluan itu, para pembaca akan penulis bawa kepada essensi pokok dari kedua pembentukan sifat itu.
Kedua sifat, satu dengan lainnya, akan selalu kait-mengkait tak dapat dilepas dari hubungannya itu. Ini merupakan suatu keseimbangan yang diperlukan dalam menangkap kebenaran. Bila suatu ketika kita tangkap informasi yang benar, maka “menambah” intinya dengan pandangan pribadi kita, sudah “menyimpang” dari intinya itu. Bila pandangan pribadi itu “menunjang” inti informasi, sehingga dapat diantisipasi dengan jelas oleh yang menerima dari Anda, maka hal itu menjadi suatu kelengkapan dari intinya dengan gaya yang serupa. Hal itu terjadi, bila suatu informasi yang ditangkap merupakan “satu-satunya sumber” yang tak dapat dianalisa dan dimanipulasi. Jadi, hanya satu itu, yang lain tidak ada dan tidak serupa.
Untuk sampai pada taraf itu, kita harus “peka” untuk merasakan melalui “intuisi”, bahwa informasi itu benar, dan bila dipengaruhi oleh tanggapan pribadi, biasanya dapat mempunyai arti yang langsung berbeda. Dapatkah Anda mengerti maksud yang diuraikan oleh penulis ini ? Mempunyai kondisi kepekaan yang sama, merupakan situasi yang paling ideal. Hal itu akan sangat berharga pada “rapat-rapat” dalam membahas suatu keputusan untuk melaksanakan tindakan positif.
Ada yang berpendapat, bahwa kebenaran itu “kejam” dan suka “diperlunak” pada saat penyampaiannya kepada yang berkepentingan. Itu bisa terjadi, karena yang berkepentingan tidak siap pada tingkatan yang sama dengan yang menyampaikan. Disini banyak terjadi salah terima, salah tangkap salah persepsi dan lain-lain yang lalu akan menjadi sesuatu yang bisa “rumit” yang tadinya sederhana saja. Suatu penyampaian informasi, menimbulkan “gambaran” (visualisasi) dan “khayalan” (imajinasi) bagi yang menerima, dan akan tergantung dari “cara penyampaian” dan kemudian juga nuansanya. Seorang dalam keadaan frustrasi dan stres, akan menerima suatu informasi pada tingkatan itu, berbeda dari seorang yang bebas dari keadaan frustrasi dan stres.
Bagaimanakah pendapat para pembaca ? Merasa diri peka dan bebas dari rangsangan keterdesakan yang menimbulkan kondisi frustrasi dan stres itu ? Ukurkanlah diri Anda melalui pantauan alat biofeedback, EEG ataupun ESR. Dalam kondisi stres itu, penulis dapat membimbing Anda melalui penuntunan untuk meredakan kondisi stres. Anda PASTI akan merasa jauh lebih NYAMAN dan SANTAI . Tapi begitu Anda kembali dalam kondisi bangun sadar, maka tergantung dari struktur tubuh masing-masing, dengan ketentuan bakat PQ-nya, maka Anda akan kembali pada keadaan semula, bisa jadi menunjukkan stres kembali.
Disitu Anda dapat pembuktian, bahwa Pusat Pikir Anda belum mempunyai “pengendalian” dari kondisi kesantaian yang ditimbulkan pada “tingkatan nirsadar”. Pengendalian akan mengarah pada “pembiasaan” atau menjadi biasa dalam mengendalikan nirsadar itu. Dengan sendirinya, pada tingkatan apapun Anda berada, yaitu, pada keadaan bangun sadar ataupun pada keadaan “tidur sadar”, keadaan santai nirsadar itu akan “menetap” pada Pusat Pikir Anda.
Kondisi semacam itu, akan membawakan pengaruh “positif” yang akan menyelubungi cara berfikir dengan tujuan apapun. Sekali lagi penulis mengingatkan, bahwa keadaan nirsadar, “nyata” telah diCiptakan dengan nuansa positif saja, untuk menjaga serta memberikan pedoman bagi manusia akan adanya “kepositifan” yang dapat menanggulangi “kontradiksinya”, yaitu kenegatifan yang mempengaruhi manusia pada saat berada pada keadaan “bangun sadar”.
Karena “nirsadar” tidak disadarkan pada keadaan “bangun sadar”, maka manfaat yang terkandung didalamnya tak dapat dipergunakan dalam “men-dominasi” kejadian-kejadian pada keadaan bangun sadar. Begitu mudah sebenarnya untuk dimengerti dan dikerjakan, tapi harus ada kesediaan pada kita, untuk memulai mengadakan “perubahan nyata” pada jiwa kita masing-masing.
Nirsadar akan selalu memacu “kejujuran” yang kekal, sedangkan bangun sadar, tanpa pengendalian dari nirsadar, akan selalu “terumbang-ambing’ antara kedua kemungkinan itu. Otak bagian Kiri kita, sangat memerlukan “pengawasan” (control) dari Otak bagian Kanan supaya selalu terjaga dari pengaruh lingkungan yang negatif. Tidak mungkin ? Jangan salah pendapat, pada artikel sebelum ini, penulis mengungkapkan gelombang-gelombang kekuatan yang menyangkut getaran-getaran yang ditimbulkan oleh Pusat Pikir (brain).
Gelombang “pendek” dari BETA, mempunyai kekuatan “lemah”, gelombang ALPHA yang “memanjang”, mempunyai kondisi “kuat”. Gelombang THETA yang “lebih panjang” dari Alpha, “lebih kuat lagi” dan akhirnya, gelombang Delta yang “paling panjang”, mempunyai kondisi yang “terkuat” dari ketiga gelombang sebelumnya. Metode Silva akan “meng-integrasi-kan” keempat gelombang Otak itu, pada kedudukan yang “memusat” atau “centered”, yang berkedudukan pada “daerah ALPHA” dengan “frekuensi 10 HERTZ”. Dalam suatu “kondisi integrasi”, maka masing-masing “daerah” gelombang akan mempunyai kekautan yang OPTIMAL, dan tak akan dapat ditandingi oleh kondisi apapun yang ditimbulkan oleh “daerah gelombang” tersendiri.
Dengan ungkapan ini, penulis harapkan segala sesuatu mengenai gelombang-gelombang Otak yang sangat “berperan” dalam mencetuskan serta mengelola pikiran manusia dapat ‘dicerna” oleh para pembaca, yang merupakan “netters” yang rajin mengakses website Indosiar serta WordPress ini, serta dapat meneruskan melalui uraiannya kepada yang “bukan netters” atau yang belum berkesempatan melaksanakan akses sekalipun sudah mempunyai perangkat untuk itu. Bila ada yang “memprint out” semua naskah ini, dan ingin menyebar luaskan, maka harus dibicarakan terlebih dahulu dengan pengelola website dan penulis sendiri. Hal ini untuk menjaga KEJUJURAN yang terkandung dalam jiwa masing-masing, yang penulis peringatkan kepada ketentuan dan keteraturan dari HTBA, supaya yang berbuat tanpa kejujuran dapat terhindar dari “penimbalan balik” HTBA (H-ukum T-imbal B-alik A-lam), yang Anda telah mulai kenal kini.
Contohnya, bajakan-bajakan yang telah terjadi pada kaset dan CD, kemudian penterjemahan buku, tanpa perundingan dari pengarang aslinya, sering kali menimbulkan “masalah” yang tidak terduga sebelumnya. Banyak yang tidak merasa, bahwa telah diadakan pelanggaran dari hak-hak tertentu yang terutama dilindungi secara SUBYEKTIF oleh HTBA dan bukan oleh Hukum OBYEKTIF yang berlaku, yang penuh dengan KELEMAHAN dari mereka yang menjalankan serta meng-intervensi hukum obyektif itu.
Disitu kita dapat melihat kenyataan adanya penimbulan masalah sepanjang masa, sampai saatnya hal itu dapat ditanggulangi dengan KESADARAN HUKUM serta kesadaran yang dipercayai untuk berkuasa mengelola negara ini, kearah KESEJAHTERAAN UMUM dengan meningkatkan KELAYAKAN HAK HIDUP secara “menyeluruh” bagi semua WARGA NEGARA INDONESIA tanpa kecuali.
Hal itu hanya dapat tercapai, bila norma-norma KEBENARAN serta KEJUJURAN dapat diawasi dan dididikkan pada semua tingkatan sosial diseluruh tanah air. Membangunkan melalui kesadaran untuk mengaku telah berbuat SALAH akan terus penulis tegakkan dan usahakan melalui ulasan-ulasan yang nantinya akan disusul dengan perwujudan dari tindakan-tindakan yang NYATA.
Dalam hal itu penulis percaya, bahwa KEJUJURAN dan KEBENARAN MURNI, pasti akan di-Ridoi oleh YANG BERKUASA ABSOLUT, menguasai, mencipta dan mempunyai JAGAD ini. Kita akan dihindarkan dari maslah-masalah untuk seterusnya, sekalipun mungkin memerlukan waktu beberapa generasi. Tapi kalau generasi yang kini sedang berkesempatan untuk merubah jiwanya dengan sistem yang telah diketemukam secara SAINS, maka waktu “re-covery” tidak memerlukan waktu lama, dalam waktu 10 tahun kita, Indonesia, akan mempunyai kedudukan yang terhormat dan disegani kembali seperti pada zamannya dibebaskan dari cengekereman penjajahan dari Belanda oleh gerakan MERDEKA dari para pejoangnya dibawah pimpinan BUNG KARNO dan BUNG HATTA.
Demikianlah Kenyataanya.
Persembahan : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar.
Puasa
Saya belum pernah mendengar kalau awal Ramadhan bisa dimulai (dengan semua sepakat) pada hari yang sama. Setahu saya, dalam penentuan agama ada 3 caranya: ijtihad, ittiba, taqlid. Anda jangan tanya saya apa dan bagaimana itu. Anda lebih pandai katimbang saya. Atau, Anda bisa juga minta penjelasan mbah google tentang itu. Dia hampir tahu semuanya.
Lalu, seandainya saja terus begitu. Misal saja ada 30 tarekat yang memulainya selisih sehari, maka nanti ada 30 kali lebaran. Ini bukan soal sesat, saya hanya suka atmosfir Ramadhan, juga suasana lebaran. Semakin panjang, semakin lama, saya semakin suka. Dan saya yakin, Anda juga suka juga. Bukankah semua amalan dilipatgandakan pahalanya ? Bukankah tidur kita jadi ibadah ? Bahkan bau mulut kita bisa berbau sorga….haah !
Sekarang sudah mulai puasanya. Dan yang saya lihat selalu hampir sama, dari tahun kemarin, tahun kemarin nya, juga tahun kemarin kemarin nya. Yang khusuk, yang sungguh-sungguh bisa kasat mata dilihat orangnya. Itu-itu juga. Bapak-bapak itu, ibu-ibu itu lagi, anak-anak muda itu juga. Saya memang tidak tahu kedalaman hati mereka. Sebagaimana saya juga tidak tahu orang-orang selain mereka, mungkin ada yang sama sungguh-sungguhnya. Seperti kubilang, itu hanya yang kasat mata.
Selebihnya adalah perlombaan antara masjid melawan mall + tivi + radio. Mau masuk puasa saja mall dan pasar-pasar meningkat pengunjungnya. Meningkat anggaran belanja, meningkat ributnya. Ribut jualan kue puasa, jajan puasa, lawakan puasa, sinetron puasa, ustadz puasa, kolak puasa…komoditas ramadhan, industri ramadhan. Bahkan puasa belum mulai, ada yang sudah menghitung THR-nya.
Sekarang ini setan tidak perlu kerja keras. Mereka bahkan tidak perlu lagi melSayakan provokasi merusak kekhusukan Ramadhan. Mereka sudah kalah lihai dengan manusia. Dan saat ini setan mungkin berkata, “Mereka sesungguhnya tidak mengerti Ramadhan….”.
Hahaha, Saya tahu Anda tidak begitu. Ya sudah, selamat berbuka puasa ya..(ucapanku ini berlaku nanti setiap maghrib, dan kuperpanjang sampai lebaran)
Milyuner Sukses
Milyuner sukses telah menemukan makna dalam kehidupannya. Namanya merupakan jaminan. Ia mampu menggabungkan seluruh kecerdasan yang dimilikinya untuk mencapai cita-cita. Ia sangat religius dan mempunyai hubungan bermasyarakat yang baik. Ia membawa kebaikan bagi semua orang.
Fakta menunjukan bahwa kebanyakan para milyuner sejati, tidaklah seperti yang sering ditampilkan di mass media. Mereka jauh dari gambaran seorang selebritis dan bisa berasal dari berbagai kalangan. Petani, penjual barang loak, cleaning service, penulis buku, pelukis sampai dengan pengusaha parkir. Mereka bersikap dan bergaul luas dengan banyak orang biasa. Rumah, mobil, perabotan mereka pun tidak mencerminkan kekayaan yang mereka miliki , sederhana. Tetapi yang menjadi perbedaan mereka dengan orang-orang biasa adalah : mereka bebas masalah finansial.
Para milyuner tersebut, memiliki kehidupan yang juga sama baiknya di bidang lain. Keluarganya sangat harmonis dan awet. Anak-anak mereka berprestasi dan jauh dari masalah. Hubungan bermasyarakat yang bagus, aktif dalam kegiatan-kegitan sosial dan rajin bersedekah. Mereka sangat religius dan mempunyai kontrol emosi dan kepekaan terhadap emosi orang lain yang sangat baik. Mampu mencari makna hidup, tangguh, ulet, sabar dan mampu mengendalikan diri. Inilah yang dikatakan, mereka mempunyai kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi.
Milyuner sukses, dipastikan memiliki kecerdasan-kecerdasan tersebut, selain kecerdasan-kecerdasan lain yang dikembangkan dengan berimbang.
Kredibilitas mereka juga sudah teruji. Orang menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap mereka. Nama mereka adalah jaminan. Inilah rahasia yang menyebabkan, bisnis apapun yang mereka kembangkan, akan berhasil dengan baik.
Milyuner sejati membangun dirinya dari bawah. Mereka menggunakan seluruh kecerdasan yang dimilikinya untuk mewujudkan impian. Beberapa diantara mereka, mungkin hanya mempunyai pendidikan formal setingkat SD. Tetapi ini bukan berarti mereka bodoh, tetapi ini seringkali karena kondisi ekonomi keluarga mereka saat itu tidak memungkinkan, sehingga putus sekolah. Sebetulnya mereka memiliki kecerdasan intelektual yang baik, karena inilah yang merupakan modal mereka. Kecerdasan ini bisa dikatakan sebagai bakat, yang berhubungan dengan kemampuan belajar dan menciptakan sesuatu.
Jadi, kecerdasan intelektual bukan hanya kemampuan di bidang matematis maupun bahasa. Setiap orang mempunyai kecerdasan intelektual yang berbeda-beda. Oleh karena itu kita sering melihat keberhasilan orang di bidang yang berbeda-beda pula.
Contoh, Susi Susanti mempunyai bakat pada bidang bulutangkis, sehingga dengan mudah mampu menyerap dan kemudian mengembangkan teknis-teknis permainan bulutangkis dengan baik dan lebih cepat.
Milyuner mempunyai mimpi yang sangat besar. Inilah yang tidak dipunyai oleh orang-orang biasa, bermimpi pun tidak berani ! Hasil yang besar seringkali berawal dari mimpi yang besar.
Manusia mempunyai berbagai kebutuhan dan keinginan sehingga muncul yang namanya cita-cita. Kemampuan manusia untuk membuat cita-cita, menetapkan tujuan dan bermimpi disebut dengan kecerdasan aspirasi.
Cita-cita setiap orang tidaklah sama berdasarkan tingkatnya. Ada yang hanya mempunyai cita-cita yang sederhana, karena merasa tidak akan mampu meraih cita-cita yang tinggi (menyerah dengan keadaan apa adanya). Kemudian ada yang mempunyai cita-cita yang tinggi dan cukup puas lalu berhenti setelah berhasil mencapainya. Ada lagi yang mempunyai cita-cita yang tinggi, setelah diraih dia akan menetapkan cita-cita lainnya yang lebih tinggi lagi.
Kecerdasan untuk mengenali dan mengelola kekuatan diri sendiri maupun yang ada pada luar dirinya, umumnya dimiliki oleh para milyuner. Untuk mewujudkan cita-citanya, seorang milyuner tidak hanya mengandalkan kemampuan yang ada pada dirinya. Ia juga seorang yang hebat dalam manajemen, yaitu mengatur dan membagi tugas kepada orang yang tepat.
Saya mempunyai teman milyuner yang hanya tamatan STM, tetapi ia mempunyai banyak staff dengan gelar kesarjanaan di berbagai keahlian. Ia dengan pintar menyerahkan urusan yang tidak mampu diselesaikanya sendiri, kepada para staff tersebut. Inilah yang dikatakan ia mempunyai kecerdasan kekuatan, yang bahkan ia tidak menyadarinya.

