subscribe: Posts | Comments

STRUKTUR JIWA MANUSIA SANGAT RUMIT, MINIM PENGENDALIAN DAN TIDAK SEIMBANG SAMA SEKALI

0 comments

Para pembaca yang penulis hormati. Mungkin hal kejiwaan manusia mulai dari zaman ‘baheula’ atau zaman masa lampau, kurang sekali mendapatkan perhatian yang sepatutnya. Pada zaman itu, yang memang masih merupakan zaman dimana manusia masih primitif dan lekat sekali pada kondisi <obyektif> hal yang disebut <psikhologi> masih belum mempunyai arti yang terpenting didalam perkembanganya.

Manusia saat itu masih meraba-raba mana yang penting dan patut diperhatikan dan mana yang kurang perlu. Sungguhpun demikian, ada saja diantara sekian banyak manusia yang ada melaksanakan perhatian pada bidang <psikhologis>. Ini disebabkan, karena bidang ini termasuk hal yang ‘non-obyektif’ atau ‘subyektif’, dan merupakan bidang yang termasuk <tabu> berhubung tiada keterangan yang jelas dan dapat dimengerti serta ditanggapi sebagai sesuatu yang sangat penting.

Karena mereka yang gigih mencoba menarik perhatian yang sepatutnya pada bidang ini, seperti antara lain Sigmund Freud, Abraham Maslow dan lainya yang berjoang memberikan penjelasan, bahwa manusia tidak dapat terlepas dari suatu pendidikan non-fisik tersebut, maka pendobrakan seperti itu kini telah menjadi pemikiran yang mendalam sekali pada riset-riset perkembangan selanjutnya dari para pakar bidang <psikhologi> ini.

Ada suatu bidang yang dinamakan <Para-psikhologi> yang kini termasuk suatu bidang yang erat sekali berhubungan dengan hal yang <non-fisik>, mengarah dari hal supra-normal kepada bidang yang kini mulai ‘trendy’, yaitu yang dinamakan <Spiritual>. Tetapi, karena bidang itu juga ditanggapi sebagai sesuatu yang diatas hal yang normal, maka sering terjadi diuskusi yang ujung pangkalnya tidak pernah selesai. Akhirnya timbul sains baru yang dinamakan <Psikhorientologi> yang nyata telah men-<jembatani> kedua bidang tersebut. Tidak lain, karena bidang terakhir ini merupakan justru pengungkapan dari penyempurnaan manusia sehingga pemikiran dan persepsi menjadi sangat luas dan… positif.

Semula, bidang psikhologi termasuk diantara perbatasan dari bidang <allopathy> dan bidang <alternatif>. Psikhologi akhirnya terumbang-ambing antara ketentuan dari bidang kesehatan allopathys dan <psikhosomatis>. Mengapa demikian? Karena para pakar dari bidang allopathy tidak begitu menyukai adanya kenyataan dari penyakit yang ditimbulkan oleh adanya gejala <psikhosomatis> tersebut. Pada mulanya para pakar allopathy tidak tertarik yang menyangkut hal psikhosomatis tersebut, bahwa semua penyakit yang ditimbulkan pada kondisi fisik manusia merupakan hasil dari tekanan pikiran yang terjadi dari pengaruh lingkungan bentuk apapun yang kini dikenal dengan kata <STRES>. Karena tekanan pikiran seperti itu menjadi sesuatu yang telah dibiasakan, maka tidaklah heran bahwa banyak yang kaget waktu diberi tahu, bahwa penyakitnya hanya dapat disembuhkan terutama oleh dihilangkanya stres tersebut.

Akhirnya hal itu menurut penyelidikan seksama ternyata merupakan suatu unsur yang paling menonjol, bila kita diserang oleh suatu penyakit! Seperti pernah penulis kemukakan pada artikel-artikel sebelumnya, manusia pada hakekatnya tidak bisa terserang penyakit apapun. Pen-Ciptaan Yang Maha Esa ternyata memang <sangat sempurna>, absolut dan tak dapat digugat dengan alasan apapun yang sering dijadikan alasan suatu pembenaran.

Hal ini bagi mereka yang sangat mengerti dan mendalam mengenai hal segala Ciptaan Tuhan yang Sempurna, telah mempunyai arti yang telak, bahwa manusia masih banyak harus mempelajari yang menyangkut hal <Penyempurnaan Diri> tersebut. Apakah diantara pembaca ada yang tidak menyetujui pernyataan ini? Kita pernah juga mengetahui, bahwa disana-sini di dunia ada saja manusia yang ukuran umurnya diatas yang rata-rata, bahkan bisa mencapai umur diatas <seratus tahun> dan lebih lagi, tanpa terserang oleh penyakit yang serius.

Sering kita pertanyakan rahasia apa yang menjadikan mereka begitu kuat dan vital pada umur yang demikian panjangnya! Meng-konsumsi makanan yang bergizi dan tidak tercampur dengan terkontaminasinya makanan dengan campuran-campuran yang tidak ada manfaatnya sama sekali, tapi hanya rasa yang sedap saja merupakan hal yang nyata dan sangat mengagetkan. Dan yang paling utama adalah kondisi jiwanya yang tidak terkena tekanan stress itu.

Kemanjaan kita yang menyangkut hal fisik pada tingkatan apapun, telah banyak melaksanakan perusakan pada <jiwa sempurna dan luhur> kita, bukan demikian seharusnya kita akui??? Kemampuan jiwa manusia, bila diselidiki dengan seksama dan <jujur>, merupakan sesuatu kekuatan yang sebenarnya <dahsyat> sekali, karena mampu menumpas segala sesuatu yang merusak dan menjadi <pemenang> yang sungguh ajaib didalam situasi apapun peliknya, bukan>?

Sering kita mendengar pernyataan, bahwa <musuh> yang paling utama, adalah <Diri Kita sendiri>! Dan hal itu merupakan sesuatu kebenaran yang tak dapat lagi ditutupi dengan alasan apapun. Kitalah yang memutuskan suatu <realita>, kita yang <bertanggung jawab> terhadap segala tindakan dan perbuatan kita masing-masing dan jangan menyalahkan kondisi diluar kita, karena kita belum mampu untuk melaksanakan suatu <Perobahan> pada diri sendiri. Kita mempunyai kebiasaan suatu pendidikan yang <selfish> atau mengarah pada diri sendiri, kurang mempunyai sifat sayang kepada sesama beserta lingkungan kita, apalagi sayang pada diri sendiri.

Hal ini, karena tidak pernah diberi tahu atau dibelajarkan kepada kita pada umumnya, bukan? Jadi dengan sendirinya kejadian pada jiwa kita merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan dengan tuntas dan seksama, supaya untuk selanjutnya bisa melaksanakan perubahan total, menjadikan diri kita seorang makhluk Manusia yang <Sempurna> sesuai dengan Ciptaan dari Yang Maha Esa. Apakah kita masih sulit untuk memahami hal semacam ini? Apakah sebenarnya yang menahan diri kita untuk melaksanakan perubahan <telak> pada jiwa kita? Bila ditinjau dari sudut agamis, kita banyak telah melaksanakan pelanggaran yang menjadikan kita berdosa yang tak kunjung hilang.

Salah satu hal yang tidak dapat diabaikan, juga harus kita ingat, bahwa sesuatu yang ingin di-<kendalikan> pada diri kita tak dapat dilaksanakan melaui <Do’a> melulu, sepertinya anak kecil yang merengek mohon bantuan melulu, tapi tak berbuat sesuatu pada diri sendiri. Hal ini menandakan, bahwa kita tidak mengerti benar akan kesempurnaan yang telah di-Ciptakan oleh Yang Maha Esa, sehingga banyak yang menyimpang dari ketentuan serta keteraturan dari suatu <Hukum> yang Beliau pula telah men-Ciptakanya, yaitu yang dikenal dengan sebutan <the Universal Law of Reciprocation/Reciprocity> atau diterjemahkan dengan <Hukum Timbal-Balik Alam>.

 Renungkanlah kebenaran ini, dan lalu bersedia dengan serius untuk merubah diri kita dengan telak yang pasti sesuai dengan ke-Hendaknya. Demikianlah Kenyataan-NYA.


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.