POSTED BY Administrator IN Overview ON Jul 19, 2010
Finally Revealed
Milyuner adalah ukuran keberhasilan seseorang di bidang finansial. Kebetulan hal ini merupakan ukuran keberhasilan yang mudah dipahami dan...
POSTED BY Administrator IN Overview ON Jul 19, 2010
Mengapa Bukan Anda
Mengapa selalu orang lain yang mendapatkan hasil lebih baik daripada anda? Anda juga bekerja dengan keras. Anda juga tidak bodoh. Tapi, mengapa...
featured news
Prev NextPendidikan Hanya Bisa Berhasil Tuntas Bila Caranya Sesuai Kesempurnaan Ciptaan Nya
From the desk of Ir.DR.H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar ,DSI.,Ph.D.,Psy.
Para pembaca yang budiman dan bijak, ada kemungkinan besar bahwa pada zaman ‘teknologi canggih’ ini, kita harus melaksanakan “Pendidikan Ulang” yang menyangkut cara-cara yang hingga saat terkini berulang terus sebagai cara yang paling utama.
Kita kini mengetahui dengan jelas dan tegas, bahwa pemupukan <Intelektualitas>, dengan segala hormat kepada yang menemukanya, masih sangat rentan terhadap <Perilaku> yang merupakan “Pondasi” dari pelaksanaan apapun yang tertanam sebagai <Intelektualisme> di dalam perangkat pengelolaan kita, yaitu <Pusat Pikir> atau juga dikenal dengan <Brain>.
Selama berabad-abad, Pusat Pikir berfungsi hanya dengan S e p a r o h P o t e n s i yang sebenarnya. Inilah yang oleh kebanyakan diantara kita telah diakui sebagai suatu “kelemahan” yang terus-menerus terjadi tanpa melaksanakan suatu “perubahan” yang tuntas.
Kita ketahui sudah, bahwa kelemahan tidak memberikan sesuatu yang bisa dikatakan s e m p u r n a ! Tapi terus saja dilaksanakan dengan menyatakan bahwa kita harus belajar dari kelemahan yang menimbulkan kesalahan –kesalahan. Ada yang menyatakan bahwa pengalaman suatu kesalahan itulah yang harus kita amati, awasi dan pelajari. Benarkah sikap seperti itu?
Kenyataanya adalah, bahwa sering kali kita tidak pernah mau belajar dari kesalahan tersebut, bukan begitu yang terjadi hingga saat t e r k i n i ? Banyak sekali contoh-contoh yang memberikan kenyataan tersebut. Begitu “Lemah-kah” kita ini sebagai Ciptaan YME yang pada hakekatnya s e m p u r n a ?
Lalu pernahkah kita ketahui arti dari suatu ke-sempurnaan itu? Bila kita bicara mengenai hal kesempurnaan tadi, maka sudah jelas bahwa seorang yang dikatakan sempurna akan pasti m a m p u menghindarkan diri dari suatu bentuk kesalahan, apapun itu.
Pertanyaan akan timbul lalu, bagaimana hal itu bisa dilaksanakan? Apakah seorang manusia tidak selalu rentan terhadap kesalahan-kesalahan? Bisakah atau bolehkah seorang manusia berbuat suatu kesalahan? Bila kita tinjau dan simak arti dari kesalahan itu, maka akan terjadi dua hal, yaitu:
1. Peka-kah seseorang akan suatu perbuatan diukur dari pandangan “Positif” dan Negatif”?
2. Sadarkah seseorang akan tindakan yang akan dilaksanakan yang akan mengadakan pengaruh terhadap lingkunganya? Bagaimana pengaruh itu dari sudut pandangannya sendiri dan akibatnya terhadap bentuk lingkunganya?
Inilah hal yang harus kita ketahui s e b e l u m melaksanakan suatu tindakan. Dan….. sampai dimanakah mutu kesadaran kita pada saat itu? Sudahkah hal-hal seperti ini pernah ditanggapi dengan serius? Yang dilihat sebagai suatu kenyataan adalah, bahwa sedikit sekali orang mampu untuk m e n g a w a s i diri sendiri.
Tak perlulah kita menyangkal hal ini karena mungkin akan mengurangi suatu g e n g s i . Ketahuilah para pembaca, bahwa urusan serta tingkatan gengsi ini pun dapat kita awasi dengan ketat, bila mampu menggunakan kesempurnaan kita
Masih banyak diantara kita yang kurang serius mermperhatikan perilaku d i r i s e n d i r i , bukan? Karena tidak pernah terdidik untuk melaksanakan hal itu. Apakah memang memerlukan pendidikan akan hal mengawasi diri sendiri? Pernahkah disekolah-sekolah apapun tingkatanya selalu ditekankan untuk mengawasi diri sendiri terlebih dahulu sebelum dengan sangat s e r i u s meng-h a k i m i orang lain?
Paling tidak kondisi seperti itu sangat tergantung dari rasa s o p a n s a n t u n pada diri kita yang harus diakui merupakan pendidikan inti dari orang tua serta lingkungan keluarga.
Sopan santun merupakan suatu “Elegansi” di dalam bertindak dengan cara apapun. Secara politis, elegansi tersebut digunakan di dalam perundingan “Diplomasi”. Apakah hal seperti itu lalu ditanggapi sebagai suatu kelemahan?
Pikirkanlah masak-masak mengenai hal ini dan akuilah bahwa dengan ke-“brutalan” serta ke-“kerasan” tidak akan pernah dapat dicapai suatu ketuntasan di dalam penyelesaian suatu masalah, bukan? Kelihatanya selesai, tapi nyatanya akan selalu memupuk “dendam”.
Dapatkah hal ini ditanggapi dengan serius dan positif oleh para pembaca? Bila menanggapi sesuatu dengan tingkatan e m o s i tertentu yang tak terkendali, biasanya mengarah kepada suatu bentuk tingkatan n e g a t i f , dan akan melaksanakan bentuk “penganiayaan” yang menyangkut orang lain beserta lingkunganya.
Penulis dengan artikel ini ingin mengungkapkan kenyataan kekurangan pendidikan “Mental” yang hanya p o s i t i f saja. Bila kita bisa melaksanakan “brain washing” atau “pencucian Otak” membawakan suatu doktrin dan dogma menganggap orang lain sebagai “musuh” yang kita ketahui kenyataanya pada kedua “Perang Dunia” yang dahsyat itu, maka….mengapa kita masih e n g g a n juga untuk melaksanakan “brain washing” dengan cara serta tujuan “positif”?
Dimanakah disini letak dari pandangan yang benar atau yang dicari pembenaranya untuk sesuatu yang tidak j u j u r atau sebaliknya ??? Renungkanlah hal ini dengan seksama dan serius, dan akan diketahui dengan tuntas siapa yang kurang sempurna dan yang sempurna! Suatu kesempurnaan mempunyai arti, bahwa kita s u d a h mengetahui serta memaklumi akan tindakan kita, karena peka terhadap suatu kejadian yang akan atau belum terjadi. Inilah harus di-‘brain wash’-kan kepada generasi penerus untuk selalu menjaga kesopanan dan kesantunan terhadap sesama manusia (Kita), apapun bentuk, tabiat serta asal usulnya.
Mempengaruhi kesopanan melalui pengendalian dari bagian kita yang “subyektif” kini jauh lebih sempurna daripada keadaan pada masa lalu.
Demikianlah Kenyataanya.
PENULIS:
Ir.DR.H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar ,DSI.,Ph.D.,Psy.
Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo – Texas – United States of America
( Direktur/Lecturer Psychorientology wilayah Indonesia sejak 1983.)
Pengasuh kolom Magic Brain di INDOSIAR.COM
Perjuangan Hidup Penuh Teka-teki

From the desk of Ir.DR.H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar ,DSI.,Ph.D.,Psy.
Para ‘netter’, khususnya yang bergabung pada Milyuner dot com ini, sudah tentu lama tak membaca lagi saran-saran pak Las akhir-akhir ini pada page newsboard.
Ini tidak lain karena telah mengalami beberapa masalah di dalam kesehatan, dengan akibat masuk Rumah Sakit. Tapi berkat do’a dari keluarga dan juga dari murid-murid ditambah lagi dengan kemampuan untuk mengontrol diri melalui kondisi “Alpha Optimal”, maka ‘recovery’ dari kemunduran kesehatan itu telah terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
Kini kondisi pak Las sudah normal kembali seperti sedia kala dan seperti biasanya duduk dimuka komputer berjam-jam memberikan nasehat beserta gagasan kepada mereka yang membutuhkanya diseluruh dunia.
Kenyataanya, hidup ini memang diselubungi banyak “teka-teki” yang harus kita dapat meniti, melihat, menyelami, mendalami dan mencari penyelesainya yang makin tepat, bila mampu, bukan begitu?
Pengendalian diri untuk memahami kemampuan yang tepat kelihatanya tidak akan mudah. Mengapa demikian? Masih banyak sekali diantara kita yang merasakan penderitaan, baik itu di dalam kesehatanya maupun untuk meraih pendukungan dana yang memang diperlukan di dalam system pergerakan ekonomi dunia kini.
Banyak yang selalu bertanya-tanya kepada diri sendiri, mengapa di dalam meniti kehidupan ini selalu ada saja yang tidak ‘mulus’ seperti yang selalu kita harapkan. Lalu di dalam keadaan seperti itu kita akan selalu menyalahkan lingkungan, kondisi serta keterlibatan dari sesama kita di dalam melaksanakan tindakan hidup itu.
Sikap seperti itu ternyata akan ‘justru’ menimbulkan lebih banyak hambatan lagi daripada yang dapat disangka. Cobalah secara “Jujur” mewaspadai hal ini pada tingkatan ‘meditatif’. Mengapa harus demikian? Karena tingkatan seperti itu dapat menimbulkan kedamaian di dalam diri kita, sehingga hal-hal yang dirasakan akan menimbulkan “frustrasi” dan “stres” akan hilang lenyap dengan tuntas. Dengan demikian, maka pengelolaan pikiran akan menjadi gamblang dengan kecerahan yang dapat menembus penglihatan yang seakan diselubuingi dengan kabut.
Rasa “Emosi” kita akan sangat rendah dan terawasi, sehingga yang tadinya merupakan sesuatu yang terasa dangkal menjadi dalam. Inilah pada hakekatnya kondisi yang seharusnya dapat dirasakan serta dipunyai oleh semua manusia, tanpa kecuali. Anak-anak kecil di dalam hal ini, masih banyak mempunyai kondisi yang orang dewasa inginkan, yaitu tingkatan “meditaif” tersebut.
Seperti itulah, maka kesehatan kita terjamin untuk jangka waktu yang lama, bahkan bisa seumur hidup. Disitu kelihatan banyak hal yang tadinya tak terlihat dan dirasakan oleh kebanyakan diantara kita. Dengan jujur pak Las menyatakan disini, bahwa selama pak Las hidup, tidak pernah menderita ‘sakit’ apalagi masuk rumah sakit. Memang tak disukai itu, tapi telah juga terjadi pada umur lanjut (85) barulah berkenalan dengan dokter dan Rumah Sakit. Bila ada sesuatu yang menyerang berupa bentuk penyakit, yang ringan saja, hanya satu atau dua hari, lalu sehat kembali seperti semula.
Mengapakah pak Las kemukakan ini semuanya? Karena telah mendapatkan pengalaman dari suatu “Life Style” yang tidak ‘disiplin’ atau ketaatan kepada cara ‘keteraturan alamiah’. Apa itu artinya? Bila ditinjau dengan jujur, maka kebanyakan orang kini sudah ‘mabuk’ dengan kemanjaan dari kemajuan-kemajuan di dalam segala bidang apapun bentuknya, baik secara teknologi materis, termasuk bentuk makanan, maupun teknologi biologis. Meninjau hal yang pak Las ucapkan itu memang kini merupakan keinginan untuk dapat diraih atau dicapai oleh kita semuanya. Tapi kita dengan bertindak mengikuti kemajuan-kemajuan, terkadang melupakan, mana yang benar-benar memberikan dukungan yang ‘membangun’ dan mana dukungan yang ‘merusak’, bukan begitu selalu kita alami?
Nah, disinilah kita akan selalu memerlukan gagasan-gagasan yang tepat untuk selalu mendapatkan hal-hal yang sifatnya “membangun” dan bukan “merusak”. Konsep hidup selalu jujur, positif, baik serta menyayangi lingkungan serta berusaha me-‘langgeng’-kan cara seperti itui, memang belum dapat dijadikan sesuatu yang menyeluruh. Hal ini merupakan suatu “pendidikan” tuntas dengan melaksanakan keseimbangan dari hal yang ‘nyata’ dan yang ‘tidak nyata’ atau ‘obyektif’ dan ‘subyektif’.
Pengawasan dari diri sendiri tanpa meluap menjadi ketidak wajaran memang belum pernah dibelajarkan dengan cermat dan tuntas selama kita hidup ini secara keseluruhan. Kita dipelajari hanya mempertahankan diri secara FISIK dan bukan secara NON-FISIK. Disinilah lalu timbul pertanyaan, yang mana yang harus kita junjung sebagai pedoman yang bulat?
Di dalam perjalanan hbidup kita akan selalu dihadapkan pada pertentangan-pertentangan serta penyimpangan-penyimpangan yang harus dilalui dengan cara yang ‘elegan’ tanpa diperlukan kekerasan. Timbulnya pikiran-pikiran yang disebut ‘kriminal’ biasanya terjadi dari suatu kondisi jiwa yang tidak mantap.
Frustrasi dan stres merupakan “Kanker Jiwa” dan harus dilikwidasi, dihilangkan dari kehidupan kita. Untuk itu diperlukan suatu bentuk “Khayalan” atau “Imajinasi” yang jelas, menetap dan produktif! Hal ini kini dapat dipelajari dan di-induksi-kan di dalam neuron-neuron kedua belahan Otak, yaitu yang Kiri dan Kanan, yang diatur dan dikelola oleh Otak Kecil diantara kedua belahan itu yang nyatanya menjadi “Ko-ordinator” dari seluruh keteraturan yang diperlukan di dalam konstruksi tubuh kita yang kenyataanya memang telah ter-CIPTA-kan dengan SEMPURNA oleh suatu kekuatan VIBRASI yang ditimbulkan oleh “Jagad Raya” atau “Univers” yang dinamakan MAHA PENCIPTA.
Sampai disini dulu dan akan Pak Las lanjutkan dalam gagasan kemudian. Induksikanlah pengetahuan ini pada Otak anda sekalian.
Salam sejahtera selalu,
Pak Las.
PENULIS:
Ir.DR.H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar ,DSI.,Ph.D.,Psy.
Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo – Texas – United States of America
( Direktur/Lecturer Psychorientology wilayah Indonesia sejak 1983.)
Pengasuh kolom Magic Brain di INDOSIAR.COM
Milyuner.com blog dan news
Salam sejahtera,
Telah lebih dari 5 tahun MILYUNER.COM ada di antara anda, dan lebih dari 10 ribu member telah bergabung. Sebuah pencapaian yang relatif dari berbagai sudut pandang, mengingat bahwa member yang bergabung adalah dari ‘mulut ke mulut’. Seperti misi kami bahwa kemakmuran dan kesuksesan hakiki seseorang akan membawa dampak yang baik bagi lingkungan sekitarnya, maka MILYUNER.COM secara konsisten berusaha sekuat tenaga membawa semua orang agar secara sadar mau meningkatkan kemampuan dirinya secara positip (self improvement) yang diperlukan untuk mencapai itu semua. Kami tidak menawarkan kepada Anda untuk menjadi kaya dalam sekejap atau memberikan iming-iming duniawi, tapi kita secara bersama-sama belajar untuk mencapai kesejahteraan melalui proses yang benar.
Kini, setelah sekian lama, MILYUNER.COM membuat sebuah ruang baru untuk bisa berkomunikasi interaktif dengan Anda lewat blog. Kami akan memberikan berita terbaru dan juga artikel-artikel. Anda juga bisa berkontribusi untuk mengisi artikel, berbagi kepada orang lain tentang ilmu dan pengalaman Anda. Jika anda berminat, silahkan kontak kami di admin[at]milyuner.com agar kami bisa buatkan Anda sebuah account di blog ini untuk mengupload pengalaman Anda.
Terimakasih

