subscribe: Posts | Comments

KETENTUAN MUTLAK ANTARA YANG BENAR DAN TIDAK

0 comments

website hosting information .


KETENTUAN MUTLAK ANTARA YANG BENAR DAN TIDAK

0 comments

APA YANG MENJADI PATOKAN DARI
KEBENARAN DAN KEJUJURAN ?

Pada saat, kita sebagai “manusia”, dilahirkan dibumi ini, kita telah “terisi” dengan “ciri-ciri genetik” dari asal biologis yang menjadi satu-satunya “konstruksi” terjadinya struktur “mind-body” makhluk manusia. Suatu pembentukan “sifat” yang berasal pada tingkatan pertama ini, banyak mengandung “variabel-variabel” yang sedikit banyaknya menjadi “sumber” dari pembentukan sifat manusia baru untuk selanjutnya. Perilaku manusia baru tersebut, dalam banyak expresinya, suka mengherankan orang tuanya. Suatu ketika, orang tua mengenali pada anaknya ada beberapa sifat, yang terkandung pada anaknya itu, yang serupa atau “mirip” dengan sifat orang tua itu sendiri. Tapi suatu ketika pula, mereka keheranan, adanya perilaku dari sifat yang timbul tanpa diduga semula, yang tidak diketemukan pada diri orang tuanya.

Penulis dalam hal ini telah banyak memantau, dalam pembentukan “aura” pada anak-anaknya  serta cucu-cucunya sendiri, dimana dari sumber itulah akan dapat terungkap adanya sifat-sifat yang “mirip” dan “tidak mirip” dari perilaku kita sebagai orang tua. Itu semua dapat terbaca pada “getaran-getaran” aura, yang memang ada pada diri setiap insan. Bila Anda nanti, setelah dapat mengembangkan diri melalui kursus Metode Silva, telah mempunyai “kepekaan intuisi” yang akan makin meningkat serta didukung oleh “penglihatan penangkapan” getaran-getaran aura, perhatikan saja lingkungan keluarga Anda sendiri untuk dipantau dengan seksama.

Pada dasarnya, perilaku seorang anak dalam “fase induksi pertama”, mulai satu tahun sampai dengan tujuh tahun, mulai dapat dipantau dan langsung dapat diperbaiki, bila ada faktor-faktor yang bakal menuju kepada pengelolaan nirsadar yang “menyimpang” dari perilaku yang positif. Dari saat permulaan inilah, orang tua yang “penuh perhatian” kepada masa depan perkembangan anaknya, dapat menjadi sumber yang “benar” dan “jujur” bagi landasan perilaku anaknya untuk selanjutnya.

Anak yang tidak dipantau sejak berkembang pada “fase pertama” itu, karena banyak alasan orang tuanya, yang bekerja keduanya dan menyerahkan asuhan kepada “pihak ketiga”, pasti tidak dapat mengetahui benar “isi sifat” anaknya sendiri dalam fase-fase pertama yang “induktif” itu. Jangan heran, bila akan sering terjadi kesalah pahaman antara anak dan orang tua yang akan makin renggang pada fase kedua, yaitu antara tujuh dan empat belas tahun kemudian.

Didalam setiap keluarga, tentu ada saja suatu “keterkecualian” yang terdapat dari “pemindahan genetik” yang dasarnya sangat menguntungkan. Didunia, bila ingin maju “tanpa problem” kita tidak dapat tergantung dari pengecualian-pengecualian itu, karena hal itu tidak akan banyak jumlahnya. Sebagai manusia yang telah menjadi “orang tua” dan berdedikasi pada pembentukan anak yang disayangi selama hidup ini, sebenarnya tidak mempunyai batas-batas tertentu. Kita bisa saja memberikan dukungan pendidikan kepada cucu dan cicit kita, sesuai dengan hubungan mesra dan harmonis antar keluarga. Tapi bila ada anak-anak yang tidak menginginkan suatu “ikut campur” dari orang tua yang bermaksud positif, maka akan timbul suatu ‘konflik” yang bisa saja berkepanjangan sampai tingkatan “bermusuhan”. Hal-hal seperti itu banyak terjadi, hanya, kita tidak mengetahui saja. Nah, hal itu dapat dicegah melalui sistem pendidikan Metode Silva.

Norma-norma yang direkam kepada anak-anak dalam “fase induksi dan deduksi” pada masa pendidikan perilaku yang menjadi pedoman “subyektif” atau “mentalistis” bagi anak-anak yang menjadi “generasi penerus”, MUTLAK harus diperhatikan dan diperbaiki bila menyimpang, Mereka sangat tergantung dari, terutama, perhatian lingkungan keluarga masing-masing, karena hanya dengan demikian akan dapat dicegah timbulnya “gejolak emosi” yang mana anak-anak itu sangat rentan dalam hal ini.

Kita seharusnya mendidik mereka untuk “mempertahankan” diri secara “subyektif” dan bukan “obyektif”, karena yang disebut terakhir itu, akan justru banyak menimbulkan suatu tindakan “penganiayaan” pada diri sendiri dan orang lain. Membalas suatu serangan fisik, merupakan reaksi “dendam” atau “revenge” karena menyangkut rasa “puas”. Sistem bela diri pada hakekatnya merupakan kesinambungan gerak antara tubuh dan mental untuk bisa siap bila ada yang menyerang dengan tujuan “menganiaya”. Membalas serangan berarti, “kembali menganiaya” dan akan seterusnya demikian, selama salah satu oknum tidak ingin “menyerah” dan mengaku kalah.

Hal mengaku kalah itu, sudah pasti akan menyangkut rasa kebanggaan diri yang terkena “pukulan”. Merasa tidak kuasa untuk mengatasi suatu “kekalahan” itulah yang akan menjadikan mencari cara-cara suatu “pembalasan”. Hal ini akan tergantung dari suatu “introspeksi” diri, apakah kita penyebab dari suatu serangan dengan perilaku yang tidak “berkenan” bagi orang lain, ataukah kita salah tanggap mengenai perilaku orang sehingga menimbulkan gejolak emosi. Dan begitu akan seterusnya berkembang sepanjang masa, bila tidak terdapat suatu penyesuaian dengan saling MAAF-MEMAAFKAN

Kesemuanya itu tidak akan terjadi, bila anak sudah terdidik “dini” secara SUBYEKTIF dan kemudian DIPERLENGKAPI secara OBYEKTIF. Pengutamaan pendidikan subyektif membuktikan perubahan-perubahan pada perilaku semua manusia dan tidak tergantung kini dari kapan harus dimulai. Metode Silva “terbuka” sekali dengan cara sistemnya untuk bisa bekerja bagi semua “struktur” manusia, baik bagi yang tua maupun yang muda.

Memulai dari dini, seperti halnya menanggulangi penyakit “kanker”, akan jauh lebih efektif daripada telah mengalami penyakitnya pada tingkatan parah dan berusaha mengobatinya. Semuanya termasuk dalam hal “kewajaran berpikiran sehat normal” atau “common sense”.
Pelajarilah artikel-artikel mengenai “Hasil riset ilmiah Metode Silva yang menguntungkan bagi manusia”. Kembali kepada pokok ulasan mengenai sumber kebenaran dan kejujuran, maka dengan pendahuluan itu, para pembaca akan penulis bawa kepada essensi pokok dari kedua pembentukan sifat itu.

Kedua sifat, satu dengan lainnya, akan selalu kait-mengkait tak dapat dilepas dari hubungannya itu. Ini merupakan suatu keseimbangan yang diperlukan dalam menangkap kebenaran. Bila suatu ketika kita tangkap informasi yang benar, maka “menambah” intinya dengan pandangan pribadi kita, sudah “menyimpang” dari intinya itu. Bila pandangan pribadi itu “menunjang” inti informasi, sehingga dapat diantisipasi dengan jelas oleh yang menerima dari Anda, maka hal itu menjadi suatu kelengkapan dari intinya dengan gaya yang serupa. Hal itu terjadi, bila suatu informasi yang ditangkap merupakan “satu-satunya sumber” yang tak dapat dianalisa dan dimanipulasi. Jadi, hanya satu itu, yang lain tidak ada dan tidak serupa.

Untuk sampai pada taraf itu, kita harus “peka” untuk merasakan melalui “intuisi”, bahwa informasi itu benar, dan bila dipengaruhi oleh tanggapan pribadi, biasanya dapat mempunyai arti yang langsung berbeda. Dapatkah Anda mengerti maksud yang diuraikan oleh penulis ini ? Mempunyai kondisi kepekaan yang sama, merupakan situasi yang paling ideal. Hal itu akan sangat berharga pada “rapat-rapat” dalam membahas suatu keputusan untuk melaksanakan tindakan positif.

Ada yang berpendapat, bahwa kebenaran itu “kejam” dan suka “diperlunak” pada saat penyampaiannya kepada yang berkepentingan. Itu bisa terjadi, karena yang berkepentingan tidak siap pada tingkatan yang sama dengan yang menyampaikan. Disini banyak terjadi salah terima, salah tangkap salah persepsi dan lain-lain yang lalu akan menjadi sesuatu yang bisa “rumit” yang tadinya sederhana saja. Suatu penyampaian informasi, menimbulkan “gambaran” (visualisasi) dan “khayalan” (imajinasi) bagi yang menerima, dan akan tergantung dari “cara penyampaian” dan kemudian juga nuansanya. Seorang dalam keadaan frustrasi dan stres, akan menerima suatu informasi pada tingkatan itu, berbeda dari seorang yang bebas dari keadaan frustrasi dan stres.

Bagaimanakah pendapat para pembaca ? Merasa diri peka dan bebas dari rangsangan keterdesakan yang menimbulkan kondisi frustrasi dan stres itu ? Ukurkanlah diri Anda melalui pantauan alat biofeedback, EEG ataupun ESR. Dalam kondisi stres itu, penulis dapat membimbing Anda melalui penuntunan untuk meredakan kondisi stres. Anda PASTI akan merasa jauh lebih NYAMAN dan SANTAI . Tapi begitu Anda kembali dalam kondisi bangun sadar, maka tergantung dari struktur tubuh masing-masing, dengan ketentuan bakat PQ-nya, maka Anda akan kembali pada keadaan semula, bisa jadi menunjukkan stres kembali.

Disitu Anda dapat pembuktian, bahwa Pusat Pikir Anda belum mempunyai “pengendalian” dari kondisi kesantaian yang ditimbulkan pada “tingkatan nirsadar”. Pengendalian akan mengarah pada “pembiasaan” atau menjadi biasa dalam mengendalikan nirsadar itu. Dengan sendirinya, pada tingkatan apapun Anda berada, yaitu, pada keadaan bangun sadar ataupun pada keadaan “tidur sadar”, keadaan santai nirsadar itu akan “menetap” pada Pusat Pikir Anda.

Kondisi semacam itu, akan membawakan pengaruh “positif” yang akan menyelubungi cara berfikir dengan tujuan apapun. Sekali lagi penulis mengingatkan, bahwa keadaan nirsadar, “nyata”  telah diCiptakan dengan nuansa positif saja, untuk menjaga serta memberikan pedoman bagi manusia akan adanya “kepositifan” yang dapat menanggulangi “kontradiksinya”, yaitu kenegatifan yang mempengaruhi manusia pada saat berada pada keadaan “bangun sadar”.

Karena “nirsadar” tidak disadarkan pada keadaan “bangun sadar”, maka manfaat yang terkandung didalamnya tak dapat dipergunakan dalam “men-dominasi” kejadian-kejadian pada keadaan bangun sadar. Begitu mudah sebenarnya untuk dimengerti dan dikerjakan, tapi harus ada kesediaan pada kita, untuk memulai mengadakan “perubahan nyata” pada jiwa kita masing-masing.

Nirsadar akan selalu memacu “kejujuran” yang kekal, sedangkan bangun sadar, tanpa pengendalian dari nirsadar, akan selalu “terumbang-ambing’ antara kedua kemungkinan itu. Otak bagian Kiri kita, sangat memerlukan “pengawasan” (control) dari Otak bagian Kanan supaya selalu terjaga dari pengaruh lingkungan yang negatif. Tidak mungkin ? Jangan salah pendapat, pada artikel sebelum ini, penulis mengungkapkan gelombang-gelombang kekuatan yang menyangkut getaran-getaran yang ditimbulkan oleh Pusat Pikir (brain).

Gelombang “pendek” dari BETA, mempunyai kekuatan “lemah”, gelombang ALPHA yang “memanjang”, mempunyai kondisi “kuat”. Gelombang THETA yang “lebih panjang” dari Alpha, “lebih kuat lagi” dan akhirnya, gelombang Delta yang “paling panjang”, mempunyai kondisi yang “terkuat” dari ketiga gelombang sebelumnya. Metode Silva akan “meng-integrasi-kan” keempat gelombang Otak itu, pada kedudukan yang “memusat” atau “centered”, yang berkedudukan pada “daerah ALPHA” dengan “frekuensi 10 HERTZ”. Dalam suatu “kondisi integrasi”, maka masing-masing “daerah” gelombang akan mempunyai kekautan yang OPTIMAL, dan tak akan dapat ditandingi oleh kondisi apapun yang ditimbulkan oleh “daerah gelombang” tersendiri.

Dengan ungkapan ini, penulis harapkan segala sesuatu mengenai gelombang-gelombang Otak yang sangat “berperan” dalam mencetuskan serta mengelola pikiran manusia dapat ‘dicerna” oleh para pembaca, yang merupakan  “netters” yang rajin mengakses website Indosiar serta WordPress ini, serta dapat meneruskan melalui uraiannya kepada yang “bukan netters” atau yang belum berkesempatan melaksanakan akses sekalipun sudah mempunyai perangkat untuk itu. Bila ada yang “memprint out” semua naskah ini, dan ingin menyebar luaskan, maka harus dibicarakan terlebih dahulu dengan pengelola website dan penulis sendiri. Hal ini untuk menjaga KEJUJURAN yang terkandung dalam jiwa masing-masing, yang penulis peringatkan kepada ketentuan dan keteraturan dari HTBA, supaya yang berbuat tanpa kejujuran dapat terhindar dari “penimbalan balik” HTBA (H-ukum T-imbal B-alik A-lam), yang Anda telah mulai kenal kini.

Contohnya, bajakan-bajakan yang telah terjadi pada kaset dan CD, kemudian penterjemahan buku, tanpa perundingan dari pengarang aslinya, sering kali menimbulkan “masalah” yang tidak terduga sebelumnya. Banyak yang tidak merasa, bahwa telah diadakan pelanggaran dari hak-hak tertentu yang terutama dilindungi secara SUBYEKTIF oleh HTBA dan bukan oleh Hukum OBYEKTIF yang berlaku, yang penuh dengan KELEMAHAN dari mereka yang menjalankan serta meng-intervensi hukum obyektif itu.
Disitu kita dapat melihat kenyataan adanya penimbulan masalah sepanjang masa, sampai saatnya hal itu dapat ditanggulangi dengan KESADARAN HUKUM serta kesadaran yang dipercayai untuk berkuasa mengelola negara ini, kearah KESEJAHTERAAN UMUM dengan meningkatkan KELAYAKAN HAK HIDUP secara “menyeluruh” bagi semua WARGA NEGARA INDONESIA tanpa kecuali.

Hal itu hanya dapat tercapai, bila norma-norma KEBENARAN serta KEJUJURAN dapat diawasi dan dididikkan pada semua tingkatan sosial diseluruh tanah air. Membangunkan melalui kesadaran untuk mengaku telah berbuat SALAH akan terus penulis tegakkan dan usahakan melalui ulasan-ulasan yang nantinya akan disusul dengan perwujudan dari tindakan-tindakan yang NYATA.

Dalam hal itu penulis percaya, bahwa KEJUJURAN dan KEBENARAN MURNI, pasti akan di-Ridoi oleh YANG BERKUASA ABSOLUT, menguasai, mencipta dan mempunyai JAGAD ini. Kita akan dihindarkan dari maslah-masalah untuk seterusnya, sekalipun mungkin memerlukan waktu beberapa generasi. Tapi kalau generasi yang kini sedang berkesempatan untuk merubah jiwanya dengan sistem yang telah diketemukam secara SAINS, maka waktu “re-covery” tidak memerlukan waktu lama, dalam waktu 10 tahun kita, Indonesia, akan mempunyai kedudukan yang terhormat dan disegani kembali seperti pada zamannya dibebaskan dari cengekereman penjajahan dari Belanda oleh gerakan MERDEKA dari para pejoangnya dibawah pimpinan BUNG KARNO dan BUNG HATTA.

Demikianlah Kenyataanya.

Persembahan : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar.


System Silva membawakan ke-’Cerahan’.

0 comments

SYSTEM ‘SILVA’ MEMBAWAKAN KECERAHAN BAGI AWAK
PESAWAT TERBANG YANG MEMPESONAKAN

Bila para pembaca telah banyak mengikuti naskah-naskah yang ditayangkan di dalam ‘kolom’ Magic Brain, maka akan diketahui bahwa penetrapanya tidak terbatas pada hanya kesehatan atau kepekaan saja. Bidang apapun, tanpa kecuali, dapat di-isi dengan ‘vibrasi’ yang ditimbulkan oleh adanya pelatihan dari teknik-teknik yang ber-kesinambungan yang dapat di-‘ K e n d a l i’-kan dengan seksama dan tuntas.

Dengan sendirinya kita tak dapat mengharapkan bahwa perkembangan systemnya akan cepat ‘L e n g k e t’ pada ‘Jiwa’ kita, disebabkan bahwa hal ini erat berhubungan dengan ‘Pematangan Alam’ yang kita ketahui tak dapat di-paksa-kan oleh keinginan serta tindakan manusia. Kekurangan waktu ‘kematangan’ yang tepat tidak akan membawakan suatu keberhasilan yang ‘optimal’ atau ‘seratus persen’. Menurut penyelidikan Ilmiah menanamkan suatu ‘K e b i a s a a n’ memerlukan kematangan selama .

Kita tidak perlu mencari jauh-jauh, tapi perhatikan saja keadaan disekeliling kita dimana oleh mereka yang sangat ber-‘ambisi’ melalui suatu cara pemaksaan akan menhadapi ‘masalah’, bukan demikian kenyataanya? Segala usaha yang kita laksanakan harus melalui suatu kondisi ‘W a k t u’ yang sesuai! Inilah yang banyak diantara kita seakan sangat tergesa-gesa di dalam mencapai tujuan yang telah di-angan-angan-, perhitung-, impi-kan, bukan? Karena hidup terasa pendek?

Banyak waktu akan terbuang bila hasilnya tidak memenuhi hasrat, sehingga harus diadakan pengulangan atau ‘strategi’ yang lain. Kita dengan demikian akan ‘Maju-Mundur’ dan akan juga menimbulkan ke-kecewaan, hal yang dapat menimbulkan ‘Stres’. Hal itu menandakan bahwa kita tidak ‘C e r a h’ di dalam menimbulkan pengelolaan arus pikiran.

Ke-cerahan dari arus pikiran tersebut kini dapat ditunjang dengan sempurna karena kita telah pula mempunyai ‘Pengendalian’ dari cetusan arus pikiran tadi yang dapat dilatih melalui penemuan ‘sains’ baru, dinamakan ‘P s y c h o r i e n t o l o g y’ oleh DR. Jose Silva.

Kembali kepada judul dari naskah ini, penulis ingin mengungkapkan bahwa mereka yang berkecimpung sebagai ‘Awak’ pesawat terbang di dalam hal pen-‘Cerahan’ Alam Pikiran, erat berhubungan dengan ke-’Peka’-an yang sangat ‘Intuitif’. Hal ini terkadang tak dapat diabaikan di dalam mengingat hal-hal yang pernah dipelajari pada saat dikembangkan menjdi ‘Pilot’ yang andal!

Tayangan berkala melaui program TV dari ‘National Geographic’ yang menyangkut penyelidikan kejatuhan pesawat terbang, menyatakan bahwa sering kali terjadi kekurangan di dalam kesempurnaan pembuatan komponen dan juga dari para pilot karena pengaruh berbagai kondisi yang di-alami oleh manusia. Disisnilah terbulkti bahwa system Silva telah dapat membantu di dalam peningkatan suatu ‘Kepekaan intuitif’ yang jitu.

Dengan adanya kemampuan suatu ‘Kepekaan’ yang mendalam serta tuntas, maka ‘Intuisi’ apapun yang timbul pada ‘Sanubari’ kita akan dapat dirasakan sebagai sesuatu yang dapat di-‘andal’-kan. Dan hal ini tidak di-khusus-kan bagi seorang ‘Pilot’, tapi dapat dipergunakan pada segala bentuk bidang pengetahuan di lingkungan seluas apapun.

Penulis ingat pernah membaca suatu berita pada tahun 1988. Di koran ‘Tokyo Simbun’, kalau tidak pada koran Jepang lainya, terdapat ulasan mengenai hal kepekaan yang telah dipaparkan sebagai berita yang menakjubkan. Staf teknis dari Japanese Air Line, menyatakan bahwa atas penyelidikan melalui dimensi ‘Subyektif’ dengan menggunakan kondisi ‘Alpha Optimal’ pada kondisi ‘meditatif’ dari System Silva, mereka menemukan ‘keretakan’ pada gantungan salah satu mesin pada sayap pesawat Boeing.

Pesawat ini direncanakan akan berangkat hari itu ke Los Angeles dengan mengangkut 250 orang beserta crew terbang. Setelah dilaporkan hal itu kepada managemen operasi, pesawat tak jadi diterbangkan atau ‘grounded’ untuk diselidiki ulang melalui mesin canggih. Padahal sebelumnya sudah juga melalui mesin tersebut itu. Keputusan Direksi JAL adalah, bahwa pesawat tersebut tetap ‘grounded’ sampai telah diadakan penyelidikan ulang dan reparasi. Para penumpang diarahkan memakai pesawat lain!

Para pembaca yang setia, penulis saat itu sedang mengajar system Silva di Hotel ‘ELMI’ Surabaya, dan dengan bangga menceritakan peristiwa tersebut kepada para peserta. Mungkin, karena lalu diadakan cerita itu dan menyebar dari mulut ke mulut, maka setelah itu, banyak peserta yang ingin belajar system Silva tersebut yang menambah jumlah di kota Surabaya menjadi hingga enam ribu lima ratus orang sampai tahun 1997. web search history Setelah itu, pelatihan yang demikian pesat berkembang, melamban dan berhenti dengan adanya ‘Krisis Keuangan’ yang saat itu sedang melanda seluruh Dunia termasuk Indonesia.

Disinilah lalu penulis juga telah mengadakan ceramah-ceramah di ‘Garuda Indonesia Airways’ saat dipimpin oleh Bapak ‘Lumenta’. Beberapa Pilot juga telah belajar dan kini banyak yang mempunyai kedudukan asyik di Air Line lainya karena Garuda masih kurang memberikan penghargaan melalui ‘income’ yang memadani dengan kecakapan dan kemampuan mereka.

Apakah yang dapat kita pelajari dari mereka yang telah berhasil dengan penggunaan System Silva? Tidak lain adalah me-‘Ningkat’-kan ‘Mutu’ atau qualitas ke-‘Jiwa’-anya di dalam menunaikan ‘Tugas’ atau ‘Missi’ yang telah di-‘Anugerah’-kan oleh Maha Pen-Cipta untuk me-‘lestari’-kan Ciptaan-Nya dengan suatu pembangunan ‘Kesejahteraan’ tapi bukan perusakan yang kini dimana-mana telah terjadi. Masih ingat apa yang dikatakan Silva di dalam ‘Pesan Agung’-nya mengenai penemuanya yang bakal dapat membantu umat manusia di dalam ‘Kemampuan’-nya yang ampuh?

Penulis akan berjoang terus selama sisa hidupnya untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan Baru ini yang ternyata merupakan ‘Jembatan’ antara ‘Psychologie’ dan ‘Para-Psychologie’. Demikianlah untuk di-renungkan dan ditindakan oleh kita semua tanpa kecuali serta meng-‘Amal’-kan pada lingkungan kita masing-masing sampai waktu ‘tanpa batas’!

Dengan adanya kemampuan kita yang berkesinambungan pada saat tertentu sudah ‘Pasti’ hal ini akan membawakan sesuatu yang baru yang didasarkan kepada ke-‘Positif’-an yang akan menyelebungi masyarakat kita tanpa harus memerangi dengan cara yang kurang sehat dan tepat di dalam menghilangkan gejala ‘Budaya KKN’ yang kelihatan memerlukan waktu yang lama sekali untuk dapat di-hilang-kan dari Jiwa kita untuk selamanya.

Siapakah yang mempunyai pendirian bahwa yang POSITIF dapat dikalahkan oleh yang NEGATIF? Dari kenyataan kita dapat belajar, bahwa nuansa ‘Negatif’ tidak dapat bertahan LAMA. Sekalipun dicari alasan-alasan dengan persekongkolan apapun yang ingin meng-‘Habisi’ ke-‘Positif’-an, bukan demikian sejarah telah selalu membuktikan? Akhirnya yang POSITIF akan ‘Unggul’.

Kini terletak pada diri kita untuk ingin maju secara POSITIF sesuai dengan kematangan Alam, ataukah se-Balik-nya dengan selalu dihadapkan pada MASALAH?

Pilihan berada pada diri kita masing-masing, Demikian Kenyataanya!!!


« Previous Entries